Hai rekan sekampus, para mahsiswa baru!
Ini merupakan postingan perdana saya dan
saya akan membahas tentang sedikit opini saya mengenai mahasiswa, sosial media,
dan era milenial. Tambahan juga ini adalah tugas dari kampus saya dalam rangka acara PBAK. Di tulisan ini, akan banyak anda temui opini pribadi saya dan
saya tidak menekan anda untuk menyetujui tulisan saya. Selamat membaca.
Mahasiswa Beretika di Media Sosial Pada Era Millenial
Di era milenial ini, hampir semua diantara
kalian pasti memiliki akun media sosial bukan? Media sosial saat ini merupakan sebuah
kebutuhan. Kita berinteraksi melalui media sosial. Lewat media sosial orang biasa
menginformasikan apa saja yang mereka mau. Baik informasi pribadi atau umum mereka
tumpahkan di sana.
Melalui akun akun pribadi, mereka mengekspresikan
diri mereka disana. Memberikan informasi pribadi yang bahkan terkadang sangat mendetail
melalui postingan sehingga mudah sekali untuk mengetahui kegiatan seseorang tanpa
harus menanyakannya. Tinggal lihat dan ikuti saja postingan akun tersebut. Terbayar
penasaran kita. Istilah gaulnya sih stalking.
Terkadang, beberapa dari mereka mempertontonkan
kegiatan mereka sehari-hari. Nyaris tak ada privasi. Dengan dalih kebebasan berekspresi
dan hak asasi, orang-orang merespon postingan tersebut dengan bebasnya. Memuji,
mencaci, menghujat, mencibir, menilai, dan akhirnya jatuhnya pada penghakiman. Mereka
tidak menyadari bahwa beberapa hal yang mereka lakukan tu toxic untuk orang lain
bahkan untuk mereka sendiri.
Sekarang, korelasi antara mahasiswa, era
milenial dan media sosialnya dimana?
Melanjutkan pembahasan tadi, publik bebas
mengomentari postingan sosial media seseorang. Mereka biasa disebut netizen. Tak
pandang gender, usia, sara, pekerjaan, bahkan status. Komenannya pun sangat beragam.
Ada yang mengapresiasi dan mencaci. Terkadang, tak sedikit netizen lebih menyukai
mencaci maki dibanding mengapresiasi. Jahat!
Sayangnya, terkadang ada segelintir diantara
netizen jahat tersebut ada yang merupakan orang orang terpelajar seperti mahasiswa
kuliahan. Berkomentar jahat sembari menyorakkan pembenaran tindakan mereka dengan
alibi mereka sedang mengutarakan kebebasan berpendapat. Bila didebat orang awam,
dengan pongahnya mereka menjejalkan isi jurnal jurnal internasional dan buku buku
diktat kuliah mereka. Sungguh miris.
Perilaku buruk seperti ini mengakibatkan
pandangan orang awam terhadap status mahasiswa memburuk. Mereka memukul rata
fakta. Akhirnya pun akan berdampak pada kepercayaaan mereka terhadap mahasiswa.
Di kasus parahnya, meskipun lebih banyak mahasiswa yang mengukir prestasi tapi ada
pepatah semut di ujung pulau nampak, gajah di pelupuk mata tak terlihat.
Kita mahasiwa adalah sosok terpelajar.
Lakukanlah hal hal terpuji yang mencerminkan bahwa kita insan terpelajar. Memang,
seringkali tanpa sadar kita melakukan kesalahan. Tapi, lebih baik jika kita
berlatih mengontrol jemari kita untuk tidak menulis sesuatu yang menurunkan
martabat kita dan lebih baik kita menyalurkan semangat muda kita pada hal hal positif
yang dapat menginspirasi banyak orang atau setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri.
Maka dari itu, saya yang prihatin
dengan beberapa kasus seperti ini yang pernah saya jumpai, saya ingin mengajak teman
teman dan rekan mahasiswa untuk senantiasa menjaga lisan dan hati kita dari
kata kata dan ekspresi yang tidak patut. Saya menulis seperti ini juga sebagai
self reminder. Let's begin to express and comments politely in our social
media. Make a good impression about you to everyone. Semoga bermanfaat ya guys
artikel ini. Drop your comment below. Don't forget, comment in a polite ways.
See you;)