Kamis, 30 Agustus 2018

Peran Mahasiswa di Era Millenial


Hai rekan sekampus, para mahsiswa baru!

Ini merupakan postingan perdana saya dan saya akan membahas tentang sedikit opini saya mengenai mahasiswa, sosial media, dan era milenial. Tambahan juga ini adalah tugas dari kampus saya dalam rangka acara PBAK. Di tulisan ini, akan banyak anda temui opini pribadi saya dan saya tidak menekan anda untuk menyetujui tulisan saya. Selamat membaca.

Mahasiswa Beretika di Media Sosial Pada Era Millenial

Di era milenial ini, hampir semua diantara kalian pasti memiliki akun media sosial bukan? Media sosial saat ini merupakan sebuah kebutuhan. Kita berinteraksi melalui media sosial. Lewat media sosial orang biasa menginformasikan apa saja yang mereka mau. Baik informasi pribadi atau umum mereka tumpahkan di sana.
Melalui akun akun pribadi, mereka mengekspresikan diri mereka disana. Memberikan informasi pribadi yang bahkan terkadang sangat mendetail melalui postingan sehingga mudah sekali untuk mengetahui kegiatan seseorang tanpa harus menanyakannya. Tinggal lihat dan ikuti saja postingan akun tersebut. Terbayar penasaran kita.  Istilah gaulnya sih stalking.
Terkadang, beberapa dari mereka mempertontonkan kegiatan mereka sehari-hari. Nyaris tak ada privasi. Dengan dalih kebebasan berekspresi dan hak asasi, orang-orang merespon postingan tersebut dengan bebasnya. Memuji, mencaci, menghujat, mencibir, menilai, dan akhirnya jatuhnya pada penghakiman. Mereka tidak menyadari bahwa beberapa hal yang mereka lakukan tu toxic untuk orang lain bahkan untuk mereka sendiri.
Sekarang, korelasi antara mahasiswa, era milenial dan media sosialnya dimana?
Melanjutkan pembahasan tadi, publik bebas mengomentari postingan sosial media seseorang. Mereka biasa disebut netizen. Tak pandang gender, usia, sara, pekerjaan, bahkan status. Komenannya pun sangat beragam. Ada yang mengapresiasi dan mencaci. Terkadang, tak sedikit netizen lebih menyukai mencaci maki dibanding mengapresiasi. Jahat!
Sayangnya, terkadang ada segelintir diantara netizen jahat tersebut ada yang merupakan orang orang terpelajar seperti mahasiswa kuliahan. Berkomentar jahat sembari menyorakkan pembenaran tindakan mereka dengan alibi mereka sedang mengutarakan kebebasan berpendapat. Bila didebat orang awam, dengan pongahnya mereka menjejalkan isi jurnal jurnal internasional dan buku buku diktat kuliah mereka. Sungguh miris.
Perilaku buruk seperti ini mengakibatkan pandangan orang awam terhadap status mahasiswa memburuk. Mereka memukul rata fakta. Akhirnya pun akan berdampak pada kepercayaaan mereka terhadap mahasiswa. Di kasus parahnya, meskipun lebih banyak mahasiswa yang mengukir prestasi tapi ada pepatah semut di ujung pulau nampak, gajah di pelupuk mata tak terlihat.
Kita mahasiwa adalah sosok terpelajar. Lakukanlah hal hal terpuji yang mencerminkan bahwa kita insan terpelajar. Memang, seringkali tanpa sadar kita melakukan kesalahan. Tapi, lebih baik jika kita berlatih mengontrol jemari kita untuk tidak menulis sesuatu yang menurunkan martabat kita dan lebih baik kita menyalurkan semangat muda kita pada hal hal positif yang dapat menginspirasi banyak orang atau setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri.
Maka dari itu, saya yang prihatin dengan beberapa kasus seperti ini yang pernah saya jumpai, saya ingin mengajak teman teman dan rekan mahasiswa untuk senantiasa menjaga lisan dan hati kita dari kata kata dan ekspresi yang tidak patut. Saya menulis seperti ini juga sebagai self reminder. Let's begin to express and comments politely in our social media. Make a good impression about you to everyone. Semoga bermanfaat ya guys artikel ini. Drop your comment below. Don't forget, comment in a polite ways. See you;)